Assalamu'alaikum wr.wb. Selamat Datang di Blog Geografi Agus Maulana. Silahkan share artikel blog ini. Cantumkan URL jika dijadikan referensi. Isi blog ini tidak bisa di copy paste kecuali menggunakan smartphone. Pahami dan tulis kembali. Selamat belajar, sukses untuk kita semua. Eitts, jangan lupa tinggalkan comment baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. :)

Kamis, 24 Oktober 2013

Desa Cot Seumeureung

Desa Cot Seumeureung, Kec. Samatiga, Kab. Aceh Barat
Sumber : Ayahanda Teuku Syamsudin (Yah Nek)
Oleh : Agus Maulana
Tugas Geografi Desa Tahun 2012


Sejarah Singkat Desa Cot Seumeureung

Kata Cot Seumeureung berasal dari bahasa Aceh yang telah mengalami perubahan dialek oleh masyarakat pada waktu itu. “Cot” berarti daratan, tinggi. Sedangkan “Seumeureung” berasal dari kata Teusareung yang artinya terdampar.

Menurut sejarah, jauh sebelum masa penjajahan air dari Krueng Bubon mengalir sampai ke Jeurat Manyang. Suatu ketika, “teusareung” lah sebuah kapal layar yang masuk melalui krueng bubon di sekitar Jeurat Manyang. Jeurat Manyang sendiri merupakan daratan yang tinggi sehingga pada masa itu, pusat aktivitas Ulee Balang (kantor Ulee Balang) terdapat di Jeurat Manyang, desa Cot Seumeureung. Jadi, didasarkan pada tingginya Jeurat Manyang dan teusareung sebuah kapal, maka desa tersebut dinamakan sebagai desa Cot Seumeureung. Kata “seumeureung” sendiri merupakan hasil dari perubahan kata “teusareung” Karena pelafalan kata seumeureung dianggap lebih mudah pada masa itu.



Geuchik (kepala desa) pertama pada masa penjajahan adalah Abdurrahman atau lebih dikenal sebagai Pang Raman. Geuchik sendiri ditunjuk oleh masyarakat untuk memimpin gampong. Berikut adalah daftar geuchik yang memimpin Cot Seumeureung dimulai dari masa penjajahan hingga saat ini.
  • Abdurrahman atau lebih dikenal sebagai Pang Raman
  • Muhammad
  • Teuku Harun (masa penjajahan Jepang)
  • Teungku Insya (masa kemerdekaan RI)
  • Mukhtaruddin Akop atau lebih dikenal sebagai Bang Lidan
  • Teuku Syamsudin. Pada masa kepemimpinan beliau, gampong Cot Seumeureung mampu menjuarai perlombaan desa tingkat nasional pada tahun 1992/ 1993.
  • Saed Oemar Amda
  • Rusli Hasyim. Sepeninggal almarhum Rusli Hasyim, tampuk kepemimpinan desa diserahkan kepada Teuku Cut Ansari Ali sebagai pejabat sementara geuchik.
  • Teuku Cut Ansari Ali. Terpilih pada pemilihan geuchik periode setelah alm. Rusli Hasyim.
  • Bang Adi, menggantikan Alm. T. Cut Ansari Ali
  • Sufi Noza, terpilih sebagai geuchik pada pemilihan. Memimpin hingga saat ini.

Setelah musibah gempa bumi dan tsunami pada 26 desember 2004, banyak warga masyarakat yang mengungsi di desa Cot Seumeureung memilih menetap dan menjadi warga gampong Cot Seumeureung. Hal ini memaksa pihak gampong untuk membuka lahan yang kini telah dibangun perumahan di 2 dusun, yaitu perumahan bayu indah di dusun Padang Bayu dengan kapasitas ±18 KK dan perumahan para indah di dusun Ujung Padang Ban dengan kapasitas ±100 KK.

Ciri Desa dan Masyarakat

Ciri Desa

Desa Cot Seumeureung dipimpin oleh seorang geuchik (kepala desa). Memiliki 4 (empat) dusun yang masing- masing dipimpin oleh kepala dusun yang berkoordinasi langsung dengan geuchik. Dusun- dusun tersebut antara lain adalah dusun Blang Balee, Cot Puntong, Padang Bayu dan Ujong Padang Ban.

Desa Cot Seumeureung merupakan desa yang memiliki relief datar dan memiliki rawa- rawa. Sesuai dengan pola keruangan desa, cot seumureung merupakan desa yang termasuk dalam pola memanjang (linier) yang mengikuti arah jalan raya dan jalan gampong. Hal ini dapat dilihat berdasarkan letak rumah/ pemukiman penduduk yang terletak di sebelah kiri dan kanan jalan raya dan jalan gampong. Meskipun terdapat banyak lorong yang berkelok- kelok, pola desa tetap tergolong memanjang mengikuti arah jalan karena posisi rumah penduduk mengikuti jalan raya, jalan gampong dan jalan- jalan setapak didalam desa.

Selain itu, gampong Cot Seumeureung juga merupakan desa agraris dengan sebahagian penduduknya berprofesi sebagai petani, baik itu petani sawah ataupun petani karet dan lain- lain. Di desa juga terdapat sebuah sungai yang mengalir, yaitu krueng bubon yang bermuara di kuala bubon. Desa Cot Seumeureung tergolong dalam desa swakarya dimana golongan ini merupakan transisi dari desa swadaya menuju desa swasembada.

Desa Cot Seumeureung memiliki potensi yang cukup besar untuk terus berkembang menjadi desa swasembada (maju) karena letaknya yang strategis dan keberadaannya yang tidak terisolir. Dengan keadaan tanah yang subur dan baik untuk sektor pertanian dan sektor keagamaan yang aktif serta kehidupan sosial yang tinggi mendukung terwujudnya Cot Seumeureung sebagai desa maju tanpa harus menanggalkan faktor agama dan sosialnya. Didukung oleh sarana transportasi yang baik seperti jalan raya dan jalan gampong yang sudah di aspal, memungkinkan hasil alam dapat diangkut dengan mudah sehingga berpotensi mewujudkan swasembada hasil pangan dan non pangan. 

Berikut ciri- ciri lainnya:
  • Kebiasaan atau adat istiadat perlahan mulai longgar. Hal ini merupakan dampak dari perkembangan zaman dan imbas dari pembangunan.
  • Sudah mempergunakan alat-alat dan teknologi, baik pada sektor agraris, transportasi dan infrastruktur.
  • Memiliki tingkat perekonomian masyarakat yang terus tumbuh, pendidikan, kesehatan, keamanan, jalur lalu lintas, dan prasarana lain.
  • Struktur pemerintahan dalam desa jelas. Mulai dari geuchik, sekretaris gampong, bendahara, kepala dusun, dan lain- lain yang terstruktur dan tersusun rapi.
  • Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah lancar.
  • Norma agama masih sangat tinggi, meskipun kebiasaan yang pelahan- lahan mulai melonggar.
  • Tuha peut, pemuda, dan remaja mesjid aktif.
  • dan yang paling terbaru adalah terbentuknya Ikatan Pelajar Mahasiswa Cot Seumeureung (IPMCS) yang diprakarsai oleh mahasiswa- mahasiswa Gampong Cot Seumeureung, baik yang menuntut ilmu di Aceh Barat maupun yang merantau ke luar daerah.
  • Dan lain- lain.

Ciri Masyarakat Desa Cot Seumeureung

Secara umum, ciri masyarakat desa adalah sebagai berikut:
  • Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara sesama masyarakat, baik masyarakat dalam gampong, maupun luar gampong.
  • Mata pencaharian masyarakat adalah pada sektor agraris (50%), baik menjadi petani sawah, petani karet maupun bekerja di hutan. Sebahagiannya lagi adalah pegawai, baik itu pegawai negeri maupun pegawai swasta (35%) dan selebihnya adalah buruh bangunan, nelayan sungai, pedagang, dan lain- lain (15%).
  • Masyarakat Cot Seumeureung, khususnya pemuda hampir seluruhnya aktif pada olah raga. Umumnya pemuda lebih dominan pada sepak bola dan sebagian besar pemuda mampu bermain sepak bola. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah letak lapangan di dusun Ujung Padang Ban yang cukup memadai dan tergolong lapangan yang bagus. Selain itu, olah raga lain seperti bola volli, badminton, dan lain- lain juga kerap dimainkan oleh pemuda gampong. Keseluruhan bagian ini tergabung dalam 1 wadah resmi milik desa, yaitu PORIB. Bahkan nama PORIB yang menjadi nama klub bola milik gampong Cot Seumeureung telah dikenal hingga jauh ke pelosok aceh barat hingga aceh jaya.
  • Memiliki ikatan emosional yang kuat antara sesama masyarakat karena jalinan persaudaraan dan persatuan.
  • Pemudi/ perempuan desa gemar menari dan rebana.
  • Sebahagian besar masyarakat kelompok umur 17- 18 tahun keatas sebagian besar memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan sisanya berhenti pada jenjang SLTP dan SLTA.
  • Didalam masyarakat desa ada yang memiliki hubungan persaudaraan antara satu dengan yang lainnya, baik secara keturunan sedarah, keturunan dekat, maupun keturunan secara jauh (saudara jauh) dan saling berinteraksi satu sama lain. Namun, masuknya para pendatang menyebabkan bervariasinya hubungan antar sesama masyarakat dalam ruang lingkup persaudaraan dan kekeluargaan yang terjaga.
  • Sebagian besar warga masyarakat sudah memanfaatkan teknologi informasi seperti handphone (HP) yang hampir setiap individu yang berumur diatas 15 tahun menggunakan sarana ini. Televisi di hampir setiap rumah, baik itu televisi digital maupun televisi berlangganan. Radio, koran dan bahkan laptop serta internet oleh mahasiswa yang berasal dari desa Cot Seumeureung. 
  • Selain teknologi komunikasi, masyarakat desa juga sudah terbiasa dengan teknologi transportasi. Mobil, sepeda motor dan sepeda sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat. Bahkan, dapat dikatakan 98% masyarakat desa sudah memiliki sarana transportasi, minimal sepeda motor. Jumlah mobil didalam masyarakat masih tergolong rendah karena tingkat kebutuhannya yang juga masih rendah. Hal ini juga memperkuat kedudukan desa sebagai desa swakarya yang sedang berkembang dan akan terus berkembang.
  • Masyarakat desa Cot Seumeureung cenderung menyekolahkan anak- anak hingga mencapai perguruan tinggi dan minimal mencapai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
  • Masyarakat heterogen (bermacam- macam), seperti dalam hal mata pencaharian, asal- usul, dan sebagainya.



Klasifikasi Desa

Dilihat dari ciri masyarakat desa, gampong cot seumereung tergolong dalam golongan desa swakarya, yaitu golongan transisi antara desa swadaya dan desa swasembada. Desa swakarya adalah desa yang setingkat lebih maju dari Desa Swadaya, dimana adat istiadat masyarakat desa sedang mengalami transisi, pengaruh dari luar sudah mulai masuk ke desa yang mengakibatkan perubahan cara berfikir dan bertambahnya lapangan kerja dì desa, sehingga mata pencaharian penduduk sudah mulai berkembang dari sektor primer ke sektor sekunder, produktivitas mulai meningkat diimbangi dengan bertambahnya prasarana desa.

Berikut adalah ciri- ciri desa swakarya:
  • Kebiasaan atau adat istiadat sudah tidak mengikat penuh dan dalam berada dalam masa transisi.
  • Sudah mulai menpergunakan alat-alat dan teknologi
  • Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi walau letaknya jauh dari pusat perekonomian.
  • Telah memiliki tingkat perekonomian, pendidikan, jalur lalu lintas dan prasarana lain.
  • Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah agak lancar.
  • Sudah mampu menyelenggarakan rumah tangga sendiri.
  • Adminstrasi berjalan dengan baik.
  • Lembaga masyarakat sudah berfungsi.
  • Pola pikir masyarakat berubah dan lebih terbuka.
  • Mata pencaharian masyarakat heterogen.

Dan berikut merupakan ciri- ciri desa Cot Seumeureung sebagai bahan perbandingan:
  • Kebiasaan atau adat istiadat sudah mulai longgar.
  • Sudah mempergunakan alat-alat dan teknologi, baik pada sektor agraris, transportasi dan infrastruktur.
  • Memiliki tingkat perekonomian yang terus tumbuh, pendidikan, kesehatan, keamanan, jalur lalu lintas, dan prasarana lain.
  • Struktur pemerintahan dalam desa jelas. Mulai dari geuchik, sekretaris gampong, bendahara, kepala dusun, dan lain- lain yang terstruktur dan tersusun rapi.
  • Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah lancar.
  • Tuha peut, pemuda, remaja mesjid, IPMCS dan lembaga masyarakat lain seperti koperasi, PORIB aktif.
  • Masyarakat desa Cot Seumeureung cenderung menyekolahkan anak- anak hingga mencapai perguruan tinggi dan minimal mencapai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
  • Masyarakat heterogen (bermacam- macam), seperti dalam hal mata pencaharian, asal- usul, dan sebagainya.

Dilihat dari berbagi ciri- ciri diatas, maka desa Cot Seumeureung dapat digolongkan kedalam golongan desa swakarya (transisional).

Pola Persebaran Desa

Desa Cot Seumeureung tergolong kedalam golongan desa yang polanya memanjang mengikuti arah jalan raya ataupun jalan gampong. Pola pemukiman penduduk atau rumah penduduk terdapat pada sebelah kiri dan kanan jalan. Pola seperti ini biasanya terdapat pada dataran rendah. Namun, syukur kepada Allah desa Cot Seumeureung tergolong tinggi mengingat ketika musibah tsunami, air bah hanya menggenangi sampai Jeurat Manyang dan Blang Balee. Meskipun letak rumah penduduk menyebar di segala penjuru, namun tetap memanjang mengikuti arah jalan raya dan jalan gampong (Linear).


Potensi Desa

Sektor Alam dan Pertanian

Tanah di dalam gampong sangat subur, dengan ketersediaan air bawah tanah yang sangat baik dan bagus. Kualitas tanah dan air ini menjadi penentu produktif tau tidaknya suatu desa. Keberadaan tanah dan lingkungan yang belum tergolong rusak, memungkinkan pertumbuhan pada sektor agraris dapat terus naik jika masyarakat mau bercocok tanam dan mengembangkan hasil usahanya, seperti pengolahan beras menjadi tepung beras, dan lain- lain yang berpotensi meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat desa.

Telah disebutkan diatas bahwa sebagian besar masyarakat gampong Cot Seumeureung (± 50%) adalah petani. Dalam hal ini, umumnya petani di gampong Cot Seumeureung tergolong menjadi 2 bagian, yaitu petani sawah yang bercocok tanam dan menghasilkan gabah/ beras dan petani karet yang menghasilkan getah untuk kemudian dijual. Meski demikian, pada dasarnya semua petani ini menanam padi ketika musim tanam, bahkan termasuk para pegawai negeri yang memiliki lahan sawah dan mau bekerja. 

Pusat pertanian masyarakat adalah di Blang Kumbang dengan luas lahan persawahan sekitar ±3 ha dan di wilayah kemukiman meulumboek. Sedangkan petani karet bekerja pada lahan hutan milik sendiri dan bekerja di lahan milik orang lain. Hutan ini terletak di sebelah tenggara desa, atau terdapat di ujung dusun Ujung Padang Ban. Hutan ini berbatasan dengan hutan milik gampong suak nie, cot pluh, dan lain- lain.

Selain dua jenis yang disebutkan diatas, masyarakat desa Cot Seumeureung juga menanam kelapa, kelapa sawit, cabai, mentimun dan semangka menjelang bulan ramadhan, coklat, pinang, dan lain- lain.

Sektor pendidikan

Pendidikan rata- rata masyarakat desa adalah lulusan SLTP, SLTA dan lulusan pesantren (dayah). Namun keadaan ini terus berubah. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat semakin sadar pentingnya pendidikan bagi generasi penerus sehingga saat ini rata- rata pemuda gampong merupakan sarjana ( S1), lulusan D3 dan lain- lain.

Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan menyebabkan kemajuan pesat di bidang pendidikan itu sendiri. Contoh konkrit yang kita dapatkan adalah tingginya jumlah anak- anak yang sedang menuntut ilmu di bangku sekolah, baik SD/ MI, SLTP/ MTs, dan SLTA/ MA. Apresiasi yang besar patut diberikan kepada orang tua generasi penerus yang mau menyekolahkan anak- anak mereka.

Bagi sebagian masyarakat yang mampu, anak- anak mereka di sekolahkan di perguruan tinggi di kota banda aceh. Sedangkan bagi yang kurang mampu setidaknya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi daerah yang mutunya tidak kalah dan memiliki daya saing yang tinggi.

Berikut adalah sarana pendidikan di desa Cot Seumeureung:
  • TK Baiturrahim, bersebelahan dengan masjid gampong.
  • SDN No.1 Bubon, di dusun Cot Puntong.
  • MIN Blang Balee, di dusun Blang Balee.
  • MTsN Blang Balee, di perbatasan antara desa Cot Seumeureung dengan desa cot masjid.
  • TPA yang diselenggarakan oleh teungku- teungku di rumah masing- masing yang memiliki santri dari berbagai dusun di dalam gampong.
  • Play group di dusun Ujung Padang Ban.

Keberadaan fasilitas ini sangat berpengaruh pada tingkat pendidikan masyarakat, karena umumnya generasi penerus menuntut ilmu di sekolah- sekolah negeri tersebut. Tingkat pendidikan tenaga pengajar (guru) di sekolah- sekolah tersebut juga sudah dapat digolongkan dalam kategori B+ yang sudah sangat memadai dan harus terus ditingkatkan demi terwujudnya masyarakat yang intelektual, cerdas, bertanggung jawab dan berakhlaqul karimah.

Sektor Kesehatan

Secara umum, tingkat kesehatan masyarakat Gampong cot Seumeureung sudah cukup baik. hal ini dipengaruhi oleh adanya fasilitas PUSKESMAS dengan layanan rawat inap di dalam gampong meskipun tenaga ahli (dokter) masih terbatas. selain itu, terjangkaunya jarak antara Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien di Meulaboh memudahkan masyarakat dalam mengkonsultasikan masalah kesehatannya.

Selain yang telah disebutkan di atas, adanya tabib- tabib tradisional juga mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat gampong.

Sektor kebudayaan

Meskipun sudah tergolong longgar, adat istiadat tetap tidak dapat ditiadakan. Berikut adalah beberapa kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung lama dan telah menjadi adat istiadat di dalam desa:
  • Peringatan maulid nabi setiap tahunnya dengan megadakan kenduri besar dan mengundang desa- desa lain pada siang hari. Ketika malam hari, kebiasaan masyartakt mendengar ceramah maulid dari pendakwah yang berasal dari dalam desa maupun yang didatangkan dari luar desa.
  • Adat peutroen aneuk (turun mandi anak). Kebiasaan masyarakat mengadakan kenduri untuk acara turun mandi anak, pesijuk dan minimal menyembelih seekor kambing.
  • Upacara kematian. Setelah jenazah diurus di rumah duka, jenazah dishalatkan di masjid gampong atau jika memungkinkan di halaman rumah duka. Kemudian jenazah di antarkan ke kuburan umum di dalam gampong untuk dikebumikan. Pada malam 5, 6, 7, diberikan kanduri ala kadar kepada yang datang berdoa dan diakhiri pada hari ke 40 sampai 44.
  • Turnamen bola kaki.
  • MTQ tingkat desa menjelang bulan ramadhan.
  • Menjelang lebaran, dibentuk panitia untuk mengutip sumbangan yang digunakan untuk menyantuni mereka yang berhak.
  • menjelang Idul Adha, selalau dibentuk panitia qurban untuk mengelola hewan- hewan yang diqurbankan oleh masyarakat.
  • Dan lain- lain.

Sektor Perdagangan

Meskipun letak gampong Cot Seumeureung ±9 km dari kota Meulaboh, aktifitas perdagangan dalam partai sedang tetap terjadi di dalam kawasan desa. Pusat aktifitas perdagangan terletak di Blag Balee. Sembako seperti beras, sayur, ikan, telur dan lain- lain sangat mudah ditemukan mengingat tersebarnya pedagang partai sedang didalam desa. Keberadaan pasar ikan di Blang Balee juga mendukung pertumbuhan. Pertokoan di Blang Balee yang menyediakan berbagai kebutuhan seperti sandang, pangan, bengkel sepeda motor, warung kopi, warung nasi, kios- kios, panglong kayu (perabot), jasa isi ulang air minum, kios pulsa, komputer dan lain- lain.

Pertumbuhan sektor perdagangan dapat terus meningkat mengingat tingkat kebutuhan masyarakat desa yang semakin tinggi dan terus meningkat.

Mata Pencaharian Masyarakat

Masyarakat gampong Cot Seumeureung memiliki mata pencaharian yang heterogen, mulai dari petani sawah dan petani karet, petani yang bekerja di hutan, buruh bangunan, pedagang, wiraswasta, pegawai negeri maupun swasta, mahasiswa (i), dan lain- lain.

Terima kasih. Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. 

Jadilah pembaca yang kritis dan berikan apresiasi terhadap penulis pada kolom yang telah disediakan. Jika ada yang kurang juga dapat ditambahkan pada kolom komentar untuk kemudian saya update dengan mencantumkan nama dari pihak yang memberikan feedback. :)

1 komentar: