Assalamu'alaikum wr.wb. Selamat Datang di Blog Geografi Agus Maulana. Silahkan share artikel blog ini. Cantumkan URL jika dijadikan referensi. Isi blog ini tidak bisa di copy paste kecuali menggunakan smartphone. Pahami dan tulis kembali. Selamat belajar, sukses untuk kita semua. Eitts, jangan lupa tinggalkan comment baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. :)
Tampilkan postingan dengan label Samatiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samatiga. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Daftar Mukim di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat

Samatiga adalah sebuah kecamatan di Kabupaten aceh Barat dengan ibukota kecamatan Suak Timah. Terdapat 32 desa di kecamatan ini. Keadaan Geografis berupa pantai, bukan pantai, dataran, dan lembah/ aliran sungai (daftar geografis masing- masing desa di Samatiga dapat didownload dalam format pdf disini). Untuk statistik daerah Samatiga kabupaten Aceh Barat tahun 2013, dapat dilihat disini.

Berikut daftar mukim di kecamatan Samatiga. Jika ada kekeliruan atau kesalahan, maupun jika ada yang tidak tersebutkan, harap kritik dan sarannya pada kolom komentar yang tersedia dan akan segera diperbaiki. Terima kasih.

A. Mukim Krueng Tinggai

  • Keureuseng
  • Krueng Tinggai
  • Leubok
  • Pange

Jumat, 29 November 2013

Masalah Lingkungan di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat & Penanggulangannya

Masalah Lingkungan di Kecamatan Samatiga dan Penanggulangannya

A. Beberapa Masalah Lingkungan di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat

1. Perusakan hutan/ Pembukaan Lahan Hutan 
Hutan merupakan surga berbagai flora dan fauna. Terdapat berbagai macam jenis/ spesies flora atau fauna dalam lingkungan hutan yang merupakan kekayaan alam yang diwariskan kepada masyarakat. Namun hal ini sering disalah artikan oleh masyarakat. Pembukaan lahan-lahan hutan secara tidak optimal dan tidak berorientasi pada lingkungan menyebabkan berbagai masalah, antara lain menyebabkan terjadinya banjir, erosi, berkurangnya spesies flora/ fauna akibat hilangnya habitat yang tepat bagi berbagai organisme tersebut. Selain itu, pembakaran hutan secara brutal menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan pernafasan serta tercemarnya udara dalam skala yang luas jika tidak dikendalikan. Hal ini menyebabkan terus berkurangnya jumlah hutan, semakin menipisnya jumlah spesies flora karena terbakar ataupun tidak mampu bertahan hidup serta jenis-jenis fauna langka dan terlindungi yang terus diburu serta dimanfaatkan. Hal ini membawa dampak yang sangat buruk bagi lingkungan hidup serta kesehatan manusia.

Lahan hutan yang dibuka kebanyakan ditanami tanaman karet dan sawit, hal ini menyebabkan berbagai dampak, salah satunya adalah berkurangnya jumlah air tanah karena tingkat kebutuhan air tanah oleh tanaman kelapa sawit sangat besar. Hal ini menjadikan spesies flora lain yang tidak mampu bersaing dalam mendapatkan unsur hara akan mati dan menghilang sedikit demi sedikit. Selain itu, fauna pun yang tidak dapat menyesuaikan diri juga akan mati dan teracam punah. Yang berhasil bertahan akan mencari sumber makanan lain dan akan mengganggu aktivitas kehidupan manusia karena habitat aslinya telah dirusak.

Kamis, 24 Oktober 2013

Desa Cot Seumeureung

Desa Cot Seumeureung, Kec. Samatiga, Kab. Aceh Barat
Sumber : Ayahanda Teuku Syamsudin (Yah Nek)
Oleh : Agus Maulana
Tugas Geografi Desa Tahun 2012


Sejarah Singkat Desa Cot Seumeureung

Kata Cot Seumeureung berasal dari bahasa Aceh yang telah mengalami perubahan dialek oleh masyarakat pada waktu itu. “Cot” berarti daratan, tinggi. Sedangkan “Seumeureung” berasal dari kata Teusareung yang artinya terdampar.

Menurut sejarah, jauh sebelum masa penjajahan air dari Krueng Bubon mengalir sampai ke Jeurat Manyang. Suatu ketika, “teusareung” lah sebuah kapal layar yang masuk melalui krueng bubon di sekitar Jeurat Manyang. Jeurat Manyang sendiri merupakan daratan yang tinggi sehingga pada masa itu, pusat aktivitas Ulee Balang (kantor Ulee Balang) terdapat di Jeurat Manyang, desa Cot Seumeureung. Jadi, didasarkan pada tingginya Jeurat Manyang dan teusareung sebuah kapal, maka desa tersebut dinamakan sebagai desa Cot Seumeureung. Kata “seumeureung” sendiri merupakan hasil dari perubahan kata “teusareung” Karena pelafalan kata seumeureung dianggap lebih mudah pada masa itu.